Wednesday, February 15, 2012

LEBYM


Bismillahirrahmanirahim
Assalamu'alaikum wr,wb.
"Kalau kamu bukan raja atau ulama besar, maka jadilah penulis" – Imam Al-Ghazali
Kalimat ini saya kutip dari novel kronik yang sangat menginspirasi saya. Kalimat inilah yang membangkitkan gelora semangat seorang penulis kelahiran Gresik untuk terus menulis dan menulis. Tidak hanya penulis ini saja, tapi juga saya. Semangat menulis saya yang lama terpendam kembali memanas lagi. Keinginan saya menjadi penulis semakin mendesak dan kehausan untuk menulis kembali menerpa lagi. Novel ini berjudul ''Opera Van Gontor'' ditulis oleh Amroeh Wijaya. Novel yang mengangkat kisah seorang santri yang pernah nyantri di Gontor, yang ditulis apa adanya, menggelitik, dan cerdas. Potret pondok modern era 70-an. Suatu era ketika beberapa tokoh bangsa masa kini dilahirkan dan ditempa untuk berbakti kepada tanah air.
Novel menarik ini tidak semata bercerita tentang penulisnya semasa di Pondok Modern Gontor, namun juga menceritakan pengalaman "Amroeh Kecil" hingga dewasa dalam menuntut ilmu. Novel ini berhasil membawa saya untuk lebih memahami roh cinta seorang ibu dan menghargai setiap pengorbanannya.
Cinta dan dukungan seorang ibu membuat penulis ini dapat bertahan melalui tahun-tahun yang sulit dan berhasil melewati segala hambatan. Cinta ibulah yang mampu menyelamatkan perjalanan hidup penulis ini. Berkat cinta tulus ibunda, saya dapat mengambil pelajaran yang berat dalam kesediaan menerima dan bersabar. Tetapi yang terpenting, saya dapat memahami tentang kekuatan dalam pengharapan.
Roh cinta ibu selalu melekat di jiwa setiap insan, yang memberi perasaan damai dan tentram ketika kita dalam suatu permasalahan. Pengorbanan dan cintanya begitu sederhana, namun tak perlu sebuah pengakuan ataupun pujian. Semuanya mengalir tulus dari lirih doa-doanya di malam yang sunyi, yang menggelitik ke lubuk hati. Tangisannya dan peluk hangatnya merupakan bentuk kasih sayangnya.
Selain itu, saya dapat mengenal lebih dalam tentang sebuah pesantren yang diimpikan oleh banyak remaja seantero nusantara untuk menuntut ilmu. Semakin dalam saya mengenal Gontor, saya semakin terdorong untuk belajar dengan sungguh-sungguh dan tidak menyia-nyiakan waktu. Tapi tak bisa saya pungkiri, terkadang malas juga sering melekat di tubuh ini. Sehingga menghambat "schedule" yang sudah ada.
Yang pasti, novel ini banyak membawa perubahan dalam diri saya. Pertama, dapat membangkitkan gelora semangat menulis kembali. Kedua, saya dapat memahami dan menghargai arti cinta tulus seorang ibu. Ketiga, terdorong untuk belajar dengan sungguh-sungguh dan tidak mebuang waktu untuk hal yang tidak bermanfaat.
Itulah yang dapat saya share tentang apa yang telah saya dapatkan dari hasil membaca sebuah novel kronik Pesantren Gontor. Semoga, para pembaca dapat mengambil hikmah darinya. Ameen.
Wassalamu'alaikum wr,wb

(Asma' Nadia)

   

No comments:

Post a Comment