Bismillahirrahmanirahim
Assalamu'alaikum wr,wb.
"Kalau kamu bukan raja atau ulama besar, maka jadilah penulis"
– Imam Al-Ghazali
Kalimat ini saya kutip dari novel kronik yang sangat menginspirasi saya.
Kalimat inilah yang membangkitkan gelora semangat seorang penulis kelahiran
Gresik untuk terus menulis dan menulis. Tidak hanya penulis ini saja, tapi juga
saya. Semangat menulis saya yang lama terpendam kembali memanas lagi. Keinginan
saya menjadi penulis semakin mendesak dan kehausan untuk menulis kembali
menerpa lagi. Novel ini berjudul ''Opera Van Gontor'' ditulis oleh Amroeh
Wijaya. Novel yang mengangkat kisah seorang santri yang pernah nyantri di
Gontor, yang ditulis apa adanya, menggelitik, dan cerdas. Potret pondok modern
era 70-an. Suatu era ketika beberapa tokoh bangsa masa kini dilahirkan dan
ditempa untuk berbakti kepada tanah air.
Novel menarik ini tidak semata bercerita tentang penulisnya semasa di
Pondok Modern Gontor, namun juga menceritakan pengalaman "Amroeh
Kecil" hingga dewasa dalam menuntut ilmu. Novel ini berhasil membawa saya
untuk lebih memahami roh cinta seorang ibu dan menghargai setiap pengorbanannya.
Cinta dan dukungan seorang ibu membuat penulis ini dapat bertahan
melalui tahun-tahun yang sulit dan berhasil melewati segala hambatan. Cinta
ibulah yang mampu menyelamatkan perjalanan hidup penulis ini. Berkat cinta
tulus ibunda, saya dapat mengambil pelajaran yang berat dalam kesediaan
menerima dan bersabar. Tetapi yang terpenting, saya dapat memahami tentang
kekuatan dalam pengharapan.
Roh cinta ibu selalu melekat di jiwa setiap insan, yang memberi perasaan
damai dan tentram ketika kita dalam suatu permasalahan. Pengorbanan dan
cintanya begitu sederhana, namun tak perlu sebuah pengakuan ataupun pujian.
Semuanya mengalir tulus dari lirih doa-doanya di malam yang sunyi, yang
menggelitik ke lubuk hati. Tangisannya dan peluk hangatnya merupakan bentuk
kasih sayangnya.
Selain itu, saya dapat mengenal lebih dalam tentang sebuah pesantren
yang diimpikan oleh banyak remaja seantero nusantara untuk menuntut ilmu.
Semakin dalam saya mengenal Gontor, saya semakin terdorong untuk belajar dengan
sungguh-sungguh dan tidak menyia-nyiakan waktu. Tapi tak bisa saya pungkiri,
terkadang malas juga sering melekat di tubuh ini. Sehingga menghambat "schedule"
yang sudah ada.
Yang pasti, novel ini banyak membawa perubahan dalam diri saya. Pertama,
dapat membangkitkan gelora semangat menulis kembali. Kedua, saya dapat memahami
dan menghargai arti cinta tulus seorang ibu. Ketiga, terdorong untuk belajar
dengan sungguh-sungguh dan tidak mebuang waktu untuk hal yang tidak bermanfaat.
Itulah yang dapat saya share tentang apa yang telah saya dapatkan dari
hasil membaca sebuah novel kronik Pesantren Gontor. Semoga, para pembaca dapat
mengambil hikmah darinya. Ameen.
Wassalamu'alaikum wr,wb
(Asma' Nadia)
No comments:
Post a Comment