Friday, February 17, 2012

Here it's LEBYM!

Asslamualaikum readers (:
To the point, kali ini aku bakal jelasin tentang postku yang sebelumnya yang judulnya "LEBYM". Salah satu lomba yang diadakan oleh flp untuk seluruh warga masyarakat Indonesia di Jazirah Arab tentang novel yang menginspirasikan kita. Sebetulnya, salah satu syarat lomba ini, kita harus ngenote di efbe dan nge tag minimal 15 orang. Awal-awal baca syarat itu, jujur, aku shock plus galau garagara gabisa ikut lomba itu. Pasalnya, aku ga punya efbe T___T. Singkat cerita, waktu itu Ka Taqy ke sekolah, langsung aja aku tanyain syarat" lomba itu. "Gimana kalo yg punya efbe?" Dan Alhamdulillah, yang gapunya efbe bisa ngemention temen"nya di twitter! Pas denger itu, aku girang banget. Dan makin ga sabar buat bikin artikelnya. Hari terakhir ngumpulin artikelnya hari rabu, dan kalo ga salah aku punya waktu 3 atoga 4 hari lagi. Mepet banget waktunya dan kebetulan lumayan banyak pr plus ulangan. Jadi deh kejar kejaran waktu gitu.
Dan Alhamdulillah, artikelnya selese hari selasa, sehari sebelum hari terakhir pengumpulan artikelnya. Dan hasilnya, seperti itulah kawan (: . Mama juga sempet baca hasil artikel itu. Beliau terharu banget dan bangga dengan hasilnya! Loveyoumom!! Mama juga sempet baca hasil artikel itu. Beliau terharu banget dan bangga dengan hasilnya! Loveyoumom!! ♥♥ . Jujur, itu nulisnya dari hati, apalagi pas berkaitan roh cinta seorang ibu! :")
*Skip* Pengumumannya insyaAllah hari ahad, sekaligus ngumpul bareng di "Rumah Cahaya" ngerayain Milad flp ke XV dan bedah buku Ka Oki Setiana Dewi. Sebenarnya, hari rabu kemaren rencana bedah buku ka Oki, tapi ka Okinya sakit. Jadi deh, hari ahad bedah bukunya. Btw, aku ketua panitia buat acara bedah buku ka Oki loh! :D I'm so proud of myself, yeah so much! (:
Doanya, semoga hasil artikelnya seperti yang diharapkan dan acara buat hari ahad lancar lancar aja! Amiin Ya Rabb (: . Sekian dulu, seeyaa (:

with love,
asmaa (:



Wednesday, February 15, 2012

LEBYM


Bismillahirrahmanirahim
Assalamu'alaikum wr,wb.
"Kalau kamu bukan raja atau ulama besar, maka jadilah penulis" – Imam Al-Ghazali
Kalimat ini saya kutip dari novel kronik yang sangat menginspirasi saya. Kalimat inilah yang membangkitkan gelora semangat seorang penulis kelahiran Gresik untuk terus menulis dan menulis. Tidak hanya penulis ini saja, tapi juga saya. Semangat menulis saya yang lama terpendam kembali memanas lagi. Keinginan saya menjadi penulis semakin mendesak dan kehausan untuk menulis kembali menerpa lagi. Novel ini berjudul ''Opera Van Gontor'' ditulis oleh Amroeh Wijaya. Novel yang mengangkat kisah seorang santri yang pernah nyantri di Gontor, yang ditulis apa adanya, menggelitik, dan cerdas. Potret pondok modern era 70-an. Suatu era ketika beberapa tokoh bangsa masa kini dilahirkan dan ditempa untuk berbakti kepada tanah air.
Novel menarik ini tidak semata bercerita tentang penulisnya semasa di Pondok Modern Gontor, namun juga menceritakan pengalaman "Amroeh Kecil" hingga dewasa dalam menuntut ilmu. Novel ini berhasil membawa saya untuk lebih memahami roh cinta seorang ibu dan menghargai setiap pengorbanannya.
Cinta dan dukungan seorang ibu membuat penulis ini dapat bertahan melalui tahun-tahun yang sulit dan berhasil melewati segala hambatan. Cinta ibulah yang mampu menyelamatkan perjalanan hidup penulis ini. Berkat cinta tulus ibunda, saya dapat mengambil pelajaran yang berat dalam kesediaan menerima dan bersabar. Tetapi yang terpenting, saya dapat memahami tentang kekuatan dalam pengharapan.
Roh cinta ibu selalu melekat di jiwa setiap insan, yang memberi perasaan damai dan tentram ketika kita dalam suatu permasalahan. Pengorbanan dan cintanya begitu sederhana, namun tak perlu sebuah pengakuan ataupun pujian. Semuanya mengalir tulus dari lirih doa-doanya di malam yang sunyi, yang menggelitik ke lubuk hati. Tangisannya dan peluk hangatnya merupakan bentuk kasih sayangnya.
Selain itu, saya dapat mengenal lebih dalam tentang sebuah pesantren yang diimpikan oleh banyak remaja seantero nusantara untuk menuntut ilmu. Semakin dalam saya mengenal Gontor, saya semakin terdorong untuk belajar dengan sungguh-sungguh dan tidak menyia-nyiakan waktu. Tapi tak bisa saya pungkiri, terkadang malas juga sering melekat di tubuh ini. Sehingga menghambat "schedule" yang sudah ada.
Yang pasti, novel ini banyak membawa perubahan dalam diri saya. Pertama, dapat membangkitkan gelora semangat menulis kembali. Kedua, saya dapat memahami dan menghargai arti cinta tulus seorang ibu. Ketiga, terdorong untuk belajar dengan sungguh-sungguh dan tidak mebuang waktu untuk hal yang tidak bermanfaat.
Itulah yang dapat saya share tentang apa yang telah saya dapatkan dari hasil membaca sebuah novel kronik Pesantren Gontor. Semoga, para pembaca dapat mengambil hikmah darinya. Ameen.
Wassalamu'alaikum wr,wb

(Asma' Nadia)