Tuesday, January 15, 2013

Twin?

Assalamu'alaikum, readers! Sesuai janjiku kemaren, hari ini aku naro foto aku megang piala - juara 1 pidato bahasa Inggris tingkat kota. Dan karena pas pemberiannya gasempet foto sama ketua Depagnya, aku foto bareng sama salah satu temenku yang kata temen-temenku kami mirip banget. Check it out! :)

Najmi and me
Berasa pendek baget ih-_-v. Efek bajunya, readers :D Gimana menurut kalian? Mirip ga? Hehe.  Mereka suka nyapa aku dengan nama "Najmi" dan sebaliknya. Pertamanya awkward. Tapi lama-lama, suatu kelebihan yang mereka gapunya apa dah.
Ok, segini dulu, sampai ketemu di cerita dan alur hidup yang lebih seru! :)

Monday, January 14, 2013

:)

Assalamu'alaikum, readers :)  Aku mau cerita-cerita nih.  Hari ini , aku dan teman-teman pemenang lomba porseni MA sekota Banjarmasin ke Depag (Departemen Agama) kota. Sebenarnya, kami berangkatnya agak lumayan telat gitu, soalnya pada ngumpul dulu dan jarak dari sekolah kami pun lumayan kalo ditempuh make sepeda motor. Aku pun tadi nebeng temenku kesana HAHA. Sesampainya, kami disambut hujan, readers :). Cukup deras, tapi syukurnya cuma sebentar. Acaranya pun diperlambat karena mati lampu. Udaranya panas dan perutku gak berhenti-henti berbunyi. Keren kan? haha. Acaranya pun dimulai dengan tampilan grup apa gitu, intinya cool lah. Cuma suara gendangnya aja yang bikin gendang telinga sakit. Setelah itu, kami disuguhi tampilan ade dari madrasah Ibtidaiyah, juara 1 pidato bahasa Indonesia. SubhanaAllah, amanat dari pidatonya tersampaikan secara baik. Tampilan berikutnya, dari ade kelas juga, dari lomba puisi. Jujur, aku hampir meneteskan air mata. Puitis, pembawaannya super masyaAllah. Puisinya adaptasi dari Surah Al-Ma'un. Speechless pokoknya. Dan tiba-tiba, acara dipercepat karena kepala Depag (kyknya) ada acara gitu. Walhasil, pembagian hadiahnya dipercepat. Haha, kamipun bersorak sorai. Sedangkan aku, masih penasaran sama satu hal. Gimana ya tampilan ade yang juara 1 pidato bahasa Inggris hehe.
Pengumumannya dimulai, dan lomba yang pertama diumumin itu pidato bahasa Inggris. dari tingkat MI sampe MA. Akupun dapet piala yang kedua - sebenarnya yang pertama cuma karena pemberian pialanya lebih telat dibanding piala tingkat provinsi haha. Tepat habis adzan Dzuhur acaranya selese. Kamipun pulang kembai ke sekolah melanjutkan sisa pelajaran. Sesampainya, biasa, disorak-sorai-in dulu sama anak-anak. Ada yang minta traktiranlah ampe ada yang mau ngambil pialanya. Lucu. Jujur, cape banget. Perutku pun ampe pulang ke rumah ga aku isi. Mantep haha. Foto pialanya nyusul hehe. Ok, cuma segini dulu yang bisa aku ceritain. See ya! :)

Saturday, January 12, 2013

Seberkas Cahaya di Balik Persahabatan

Langkahku dan langkahnya berirama menuju satu tempat yang kami sebut tempat nangkring. Disana banyak berkumpulnya anak-anak SMAN 3 Yogyakarta. Ada yang diam dengan imajinasinya sendiri entah apa itu. Ada yang berdiri sembari memandangi lalu-lalang kendaraan. Sedangkan aku dan dia, temanku, kami masih asyik mengobrol tentang hidup yang semakin rumit dan rencana kami di masa depan. Ternyata bukan hanya dari wajah saja yang mirip, kamipun memilik saudara perempuan dengan jumlah saudara yang sama.
"Asyiknya punya saudara perempuan itu, kita bisa tukeran baju terus saling minta pendapat apasih yang bakal matching sama baju yang kita pake!" cerocosku.
"Aku ga kayak gitu. Mereka pun kayaknya gabakal mau tukeran kerudung atau apapun. Satu-satunya orang dirumah yang make hijab, ya cuma aku." jelasnya. Matanya sendu. Dia berusah menyembunyikan keharuannya. Matanya berembun.
"Tapi, aku yakin deh, pasti semua itu seru. Seru banget malah, kan?" tambahnya.
Aku memaku, tak tahu harus menjawab apa. Rasanya ingin kujelaskan maksudku sebenarnya. Frekuensi detak jantungku pun tak terkendali.
"Ki, aku ga bermaksud buat.."
Kalimatku belum jelas kutuntaskan sudah dipotongnya.
"Iya, aku ngerti. Ga usah gitu juga kali. Jadi ga seru nih pembicaraan kita. Sampai mana tadi?"
Kuhembuskan nafas dalam-dalam, aku sungguh mengerti perasaannya. Meski baru beberapa bulan kami bertemu, namun suasana mengalir dengan mudah seakan kami dua sahabat yang sudah lama tak bertemu.
"Gimana sih kamu bisa masuk sekolah ini? Kan kamu taulah sekolah kitakan persaingannya ketat." tanyaku. Sengaja kualihkan tema kami, aku tak ingin melakukan kesalahan untuk kedua kalinya.
"Kamu ngira ga, aku sebenarnya masuk sini itu, sekolah pilihan paling akhir. Ya, kalo ga diterima, aku nunggu tahun depannya lagi. Soalnya nilai rata-rata UNku kecil." jelasnya dengan enteng.
Ya Allah, jantungku kembali berdetak tak karuan.
"Tapi, Alhamdulillah kamu diterima di sekolah ini. Berkah dari Allah, Ki. Aku takjub sama kamu!" Kutepuk pundaknya. Kusenyumkan senyuman penyemangat.
"Takjub? ah, biasa aja."
"Kamu ini, gaboleh loh merendah kayak gitu haha."
"Iya, aku tau. Wong emng bener kok, gausah ditakjubkan hal sepele kayak gitu hehe."
"Btw, yang jemput kamu siapa? Ayah?"
"Ayah? Haha, ayah lagi sibuk. Mungkin mama yang bakal jemput aku."
Ada yang berbeda. Cara tawanya. Bukan tawa biasa. Mengandung sejuta kepedihan. Dugaku.
"Kerja apa emangnya?"
"Sibuk dan dia sekarang sudah tenang di alam barzah. Sudah selesai mengerjakan semua kewajibannya." Matanya memerah. Namun, bibirnya tetap tersenyum. Getir.
"Ayahku hebat, dan takkan ada yang bisa menggantikannya." Matanya semakin memerah. Berkaca-kaca.
"Ki, aku minta maaf. Aku sama sekali ga bermaskud membahas dan mengungkit semuanya. Aku minta maaf, Ki"
"Aida, sudahlah, tak usah merasa bersalah."

Pikiranku melayang. Membayangkan posisi dia sekarang. Anak kedua dari empat bersaudara. Satu-satunya orang yang memakai hijab di rumah, dan menghadapi genting kehidupan dengan asuhan seorang single parent saja. Aku? Aku hidup dengan keluarga yang sempurna. Biaya sekolah sudah ada yang membiayai. Uang jajan, juga ada. Aku, ibu, dan saudara-saudaraku pun berhijab. Sungguh, aku tak pantas sama sekali mengeluh. Siapa kira, temanku ini, memberi berbagai manfaat dari kilasan hidupnya. Akupun tak pernah habis pikir dengan senyumannya yang selalu mampu menyembunyikan sejuta kesedihan di baliknya. Satu Ayat yang mengingatkanku denganNya dan dia, temanku, Kiki.

"Maka yang mana satu di antara nikmat-nikmat Tuhan kamu, yang kamu hendak dustakan?" (QS: Ar-Rahman)

Terimakasih, Tuhan. Terimakasih sudah mempertemukan kami berdua. Terimakasih Ya Allah.

Saturday, January 5, 2013

Dapatkah?

Dapatkah, kau merasakan kesepian
Di balik keramaian
Ketika tetes air mata tak dapat terartikan
Yang kini menjadi replika kehidupan
Tuhan, kumohon putar kembali kebersamaan kami
Bersama kehangatan yang menyelimuti
Meski kabut datang
Kami masih bersama tersayang
Tuhan, dapatkah kebersamaan menetap bersama
Agar hidup tak menampakkan keganasannya
Dapatkah kebersamaan selalu di dalam sanubari
Meski nasib tak berpihak pada jiwa ini
Lalu, sampai kapan kuharus tepis keegoisan ini
Karena hipotesa masa depan kian tak terkendali
Kemudi pun tlah hilang arus
Dan hanya ada kata "kendali" yang menggema bersama isak tangis

with love,
Asma' Nadia
                                                                        Makkah, 10 Oktober 2012