Saturday, January 12, 2013

Seberkas Cahaya di Balik Persahabatan

Langkahku dan langkahnya berirama menuju satu tempat yang kami sebut tempat nangkring. Disana banyak berkumpulnya anak-anak SMAN 3 Yogyakarta. Ada yang diam dengan imajinasinya sendiri entah apa itu. Ada yang berdiri sembari memandangi lalu-lalang kendaraan. Sedangkan aku dan dia, temanku, kami masih asyik mengobrol tentang hidup yang semakin rumit dan rencana kami di masa depan. Ternyata bukan hanya dari wajah saja yang mirip, kamipun memilik saudara perempuan dengan jumlah saudara yang sama.
"Asyiknya punya saudara perempuan itu, kita bisa tukeran baju terus saling minta pendapat apasih yang bakal matching sama baju yang kita pake!" cerocosku.
"Aku ga kayak gitu. Mereka pun kayaknya gabakal mau tukeran kerudung atau apapun. Satu-satunya orang dirumah yang make hijab, ya cuma aku." jelasnya. Matanya sendu. Dia berusah menyembunyikan keharuannya. Matanya berembun.
"Tapi, aku yakin deh, pasti semua itu seru. Seru banget malah, kan?" tambahnya.
Aku memaku, tak tahu harus menjawab apa. Rasanya ingin kujelaskan maksudku sebenarnya. Frekuensi detak jantungku pun tak terkendali.
"Ki, aku ga bermaksud buat.."
Kalimatku belum jelas kutuntaskan sudah dipotongnya.
"Iya, aku ngerti. Ga usah gitu juga kali. Jadi ga seru nih pembicaraan kita. Sampai mana tadi?"
Kuhembuskan nafas dalam-dalam, aku sungguh mengerti perasaannya. Meski baru beberapa bulan kami bertemu, namun suasana mengalir dengan mudah seakan kami dua sahabat yang sudah lama tak bertemu.
"Gimana sih kamu bisa masuk sekolah ini? Kan kamu taulah sekolah kitakan persaingannya ketat." tanyaku. Sengaja kualihkan tema kami, aku tak ingin melakukan kesalahan untuk kedua kalinya.
"Kamu ngira ga, aku sebenarnya masuk sini itu, sekolah pilihan paling akhir. Ya, kalo ga diterima, aku nunggu tahun depannya lagi. Soalnya nilai rata-rata UNku kecil." jelasnya dengan enteng.
Ya Allah, jantungku kembali berdetak tak karuan.
"Tapi, Alhamdulillah kamu diterima di sekolah ini. Berkah dari Allah, Ki. Aku takjub sama kamu!" Kutepuk pundaknya. Kusenyumkan senyuman penyemangat.
"Takjub? ah, biasa aja."
"Kamu ini, gaboleh loh merendah kayak gitu haha."
"Iya, aku tau. Wong emng bener kok, gausah ditakjubkan hal sepele kayak gitu hehe."
"Btw, yang jemput kamu siapa? Ayah?"
"Ayah? Haha, ayah lagi sibuk. Mungkin mama yang bakal jemput aku."
Ada yang berbeda. Cara tawanya. Bukan tawa biasa. Mengandung sejuta kepedihan. Dugaku.
"Kerja apa emangnya?"
"Sibuk dan dia sekarang sudah tenang di alam barzah. Sudah selesai mengerjakan semua kewajibannya." Matanya memerah. Namun, bibirnya tetap tersenyum. Getir.
"Ayahku hebat, dan takkan ada yang bisa menggantikannya." Matanya semakin memerah. Berkaca-kaca.
"Ki, aku minta maaf. Aku sama sekali ga bermaskud membahas dan mengungkit semuanya. Aku minta maaf, Ki"
"Aida, sudahlah, tak usah merasa bersalah."

Pikiranku melayang. Membayangkan posisi dia sekarang. Anak kedua dari empat bersaudara. Satu-satunya orang yang memakai hijab di rumah, dan menghadapi genting kehidupan dengan asuhan seorang single parent saja. Aku? Aku hidup dengan keluarga yang sempurna. Biaya sekolah sudah ada yang membiayai. Uang jajan, juga ada. Aku, ibu, dan saudara-saudaraku pun berhijab. Sungguh, aku tak pantas sama sekali mengeluh. Siapa kira, temanku ini, memberi berbagai manfaat dari kilasan hidupnya. Akupun tak pernah habis pikir dengan senyumannya yang selalu mampu menyembunyikan sejuta kesedihan di baliknya. Satu Ayat yang mengingatkanku denganNya dan dia, temanku, Kiki.

"Maka yang mana satu di antara nikmat-nikmat Tuhan kamu, yang kamu hendak dustakan?" (QS: Ar-Rahman)

Terimakasih, Tuhan. Terimakasih sudah mempertemukan kami berdua. Terimakasih Ya Allah.

No comments:

Post a Comment